CELOTEHAN SI KERDIL

Jembatan_Ndhuwur_Guci

Di suatu ketika tanggal 27 Pebruari 2003, saya mengadu nasib ke Jakarta mulai menjejakan kaki di suatu perusahaan yang sampai detik ini masih saya sandarkan nasib baiknya untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan sehari -hari. Sebelum saya menikah tahun 2008, selama itu juga nasib baikpun belum tampak kelihatan kasap mata, sesekali ada sedikit pencerahan dengan kabar baik itu, namun mentah lagi. Lagi dan lagi kabar seperti itu sering saya nikmati sembari menjalankan aktifitas keseharianku di tempat kerja.
Memang semenjak tahun 2003 samapi detik ini berbagai kesempatan telah saya raih, seperti awalnya sebagai Staff Umum, kemudian turun menjadi Cleaning Service, Staf Umum lagi dan saat ini di posisikan di Laboratorium.
Menjadi Cleaning Service kurang lebih 4 tahun dengan berbagai dinamikanya. Di Staff Umum kurang lebih 1 tahun dengan berbagai dinamikanya pula. Sekarang di Laboratorium sudah menginjak 2 tahun juga dengan dinamikanya. Perjalananku tidaklah semulus orang – orang yang disana hiruk pikuk dan lika – liku pekerjaan telah saya lewati. Apapun yang saya kerjakan belumlah seberapa, tidak akan tamapak di mata pejabat kerdil di sana, walaupun dengan membanting tulang sekalipun.
Hidup ini memang seperti air yang tanpa saya sadari sudah 7 tahun saya mengabdi dan bekerja di Instansi ini.
Namun apalah dayaku saya hidup di kota yang besar namun nasib seperti di belantara lautan pasir yang terik terkena sinar matahari. Di sana tidak ada air setetespun untuk mengaliri tenggorokanku yang sedang kehausan serta tidak ada kehidupan karena jiwa mereka telah mati di panggang oleh teriknya sinar matahari.
Sebagai orang kecil harapanku sederhana layaknya seorang anak kepada kedua orang tuanya, yaitu ingin di lindungi, di kasihi dengan setulus hati serta di berikan haknya sebagai seorang anak. Namun apa yang aku terima selama ini, saya bagaikan di kasih buah durian, namun yang saya makan hanya baunya saja. Sebagai orang yang awam saya selalu berpikir positif fieling, mungkin saat ini dan dulu hanya di kasih baunya saja, mungkin saya baru dapat merasakan enaknya buah durian setelah saya mati.
Padang pasir yang panas setiap kali membakar mentah – mentah kesalahan orang – orang yang tak berdaya dan kerdil. Bukti disana memang tidak adanya keadilan bagi orang – orang yang kecil serta orang – orang yang di kerdilkan. Sungguh tidak manusiawi, untuk kepentingan golongan, mereka abaikan nilai – nilai keadilan untuk orang yang lemah.
Memang tidak lah mudah untuk menembus barikade politik ini, nepotisme masih sebagai acuan dasar kerja di Instansi ini. Siapa yang membawa dan siapa yang memasukan sangatlah berpengaruh. Lha wong saya yang masukin hanyalah security ga ada pamornya. Kecuali saya yang masukin tuh orang yang duduk di belakang meja sebagai pimpinan tertinggi di sebuah divisi apa,,,,, mungkin tidaklah nasibku tak seburuk ini. Di pingpong itu sudah hal biasa, di lempar kesana kemari itupun sudah hal biasa.
Yang saya tahu adalah kerja dan kerja saya tidak tahu apa itu birokrasi ap itu kepemimpinan. Saya hanya orang kecil yang butuh makan, butuh keadilan, kepada siapa saya harus mengadu selain kepada tuhan. Berikan arahan wahai para penguasa kerdil.