SEMINAR KREATIF PHOTOGRAPHY

LAPORAN SEMINAR KREATIF

“WORK FOR TASTY FOOD PHOTOGRAPHY” GEDUNG SERBA GUNA GALERI NASIONAL INDONESIA

(30 April 2011)

Penyelenggarakan BISKOM dan RYUKARI PHOTGRAPHY

Pembicara I : ROY GENGGAM (Photographer)

Pembicara II : PUJI PURNAMA (Food Stylist)

 

Di susun oleh :

1. Eko Cahyono

2. Eko Prasetyo U. P.

3. Warso

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGMA)

Jakarta, 2011

 

DAFTAR ISI  :

 

Halaman

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………..

i

DAFTAR ISI……………………………………………………………….…..

ii

HALAMAN SEMINAR FOOD PHOTOGRAPHY…………………………

iii

BAB     I PENDAHULUAN  ……………………………………………….

A.

Latar Belakang……………………………………………..

1

B.

Registrasi……………………………………………………

2

C.

Pembukaan Acara Seminar “Work For Tasty Food Photography”………………………………………….……

3

D.

Paparan Materi Photographi oleh Photografer terkenal Roy Genggam……………………………………………..

4-5

E.

Paparan Materi Food Stylis oleh Puji Purnama………..

6

F.

Kontes Food Foto :

7

1.

Picnic………………………………………..…………

2.

Ice Cream……………………………………………..

3.

Spicy…………………………………………………..
 

BAB  II 

PEMBAHASAN

A.

Cara pengambilan gambar produk………………………

8 -15

B.

Proses penataan bahan – bahan dan pendukung produc yang akan di foto…………………………..……..

16-17

C.

Tips dan Trik pengambilan foto agar  menarik.………..

18-22

 

 

BAB III 

PENUTUP

A.

Kesimpulan…………………………………………………

23-24

B.

Saran – saran………………………………………………

25

 

 

 

BAB I         PENDAHULUAN

  1. A.           Latar Belakang

“Work for tasty food photography” adalah suatu pekerjaan seorang photographer dengan objek makanan dan membuat makanan tampak lezat. Untuk mengenal lebih jauh dan mengetahui bagaimana trik proses pengambilan gambar sebuah produk makanan agar tamapak cantik dan menarik.

Untuk mengetahui bagaiman proses pengambilan gambar tersebut,  BISKOM dan RYUKARI PHOTOGRAPHY menyelenggarakan seminar sehari dengan tema “WORK FOR TASTY FOOD PHOTOGRAPHY” pembicara ROY GENGGAM (Photografer) dan PUJI PURNAMA (Food Stylist).

Acara ini di hadiri oleh berbagai kalangan, diantaranya yaitu Fotografer, Undangan dan Kalangan Umum. Peserta yang hadir 136(seratus tiga puluh enam) peserta. Peserta yang hadir diantaranya FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA) 2(dua) orang, dari Universitas Trisakti 2(dua) orang, dari Universitas Negri Jakarta di wakili oleh Mahasiswa 15(lima belas) mahasiswa, Fotografer 50(lima puluh) orang dan selebihnya peserta umum yaitu 67(enam puluh tujuh) orang.

 

 

 

 

B.        Registrasi

Registrasi dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar peminat Event SERIAL SEMINAR KREATIF “WORK FOR TASTY FOOD PHOTOGRAPHY”.

 

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

Foto by Warso Fikom UPDM (B)

Undangan seminar Work For Tasty Food Photography utusan FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERGAMA) melakukan registrasi.

 

 

 

 

 

 

C.        Pembukaan Acara Seminar “Work For Tasty Food Photography”

Pembukaan acara  Seminar “Work For Tasty Food Photography Oleh MC Haryadi pendiri sekaligus pengurus web site RYUKARI PHOTOGRAPHY.

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM

 

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

 

 

 

 

D.        Paparan Materi Photographi oleh Photografer terkenal Roy Genggam

 

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

Menjadikan Objek Sehari-hari Lebih Fotografis.

Fotografi di era digital ini sudah menjadi bagian dari aktifitas kehidupan sehari-hari, siapa pun bisa merekam kejadian atau objek di sekelilingnya dengan mudah asalkan memiliki perangkatnya, baik kamera digital atau pun telepon genggam yang berkamera. Sehingga ada anggapan dengan digital fotografi kita tidak perlu lagi memotret dengan menggunakan banyak lampu foto, juga tidak perlu lagi mengukur-ukur intensitas cahaya. Sebelum adanya digital fotografi orang akan berpikir dua tiga kali sebelum menekan tombol shutter pada kamera. Untuk yang belum begitu mengenal fotografi ada kekhawatiran jika tidak jadi gambar akan buang2 film. Sekarang umumnya orang lebih royal memencet tombol shutter, karena kalau gambar yang dihasilkan tidak memuaskan tinggal pencet delete, selesai. Kemudahan ini jadi kebiasaan untuk tidak mau memperhitungkan pencahayaan ketika memotret. Apalagi jika ada kekurangan kualitas masih bisa dimanipulasi di komputer, misal terlalu gelap tinggal di-brighten, terlalu terang tinggal di-darken. Dalam hal ini tentu bisa saja jika hanya ingin sekedar menghasilkan “gambar”. Tapi untuk orang-orang yang ingin mendalami fotografi dengan sungguh-sungguh tentu tidak cukup hanya sekedar dapat menghasilkan “gambar” dengan kameranya, dia harus memperhitungkan segi artistik. Selain komposisi dalam frame tentu harus memperhitungkan kualitas pencahayaan. Karena pada dasarnya fotografi adalah melukis dengan cahaya, maka tetap masalah gelap terang, arah jatuh cahaya, kuat-lemah cahaya, sumber cahaya dsb. masih harus diperhitungkan.

Foto by Warso Fikom UPDM (B)

Untuk menjadikan objek foto lebih menjadi fotografis, akan saya bahas di work shoap kali ini dan pada kesempatan kali ini juga saya akan jelaskan bagaimana cara pengambilan gambar yang benar serta pencahayaan yang sesuai agar objek foto yang kita foto menjadi nilai jual dan mempunyai nilai artistik yang tinggi.

 

 

E.        Paparan Materi Food Stylis oleh Puji Purnama.

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

Food stylist adalah orang yang bertugas menata objek makanan yang akan di foto. Seorang food styling juga dituntut harus mampu memberi nyawa terhadap produk yang akan di foto dan di tuntut harus mempunyai jiwa seni yang luar biasa dan kreatif tanpa batas.

Membuat foto makanan menjadi lebih bernyawa dan enak dilihat adalah pekerjaan seorang food stylist. Walaupun dengan materi yang sederhana, dengan penataan yang tepat, sentuhan garnis serta angle pengambilan foto yang tepat membuat masakan lebih indah dipandang dan menggugah selera.

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

 

F.         Kontes Food Foto dengan tema :

  1. 1.            Picnic

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

  1. 2.            Ice Cream

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

  1. 3.            Spicy

           

Foto by Eko Prasetyo Fikom UPDM (B)

 

 

BAB   II.         PEMBAHASAN

 

  1. A.           Cara pengambilan gambar produk.

Dalam event kali ini saya akan mengambil contoh di depan pintu masuk untuk melihat satu komposisi still life, yang difoto apa adanya tanpa sumber cahaya tambahan, dan juga dengan tambahan-tambahan lampu fotografi (flash head) sebagai sumber cahaya.

Kamera yang digunakan digital SLR 10.2 MP (Nikon D200). Lensa zoom 17-35mm pada focal length: 30mm. ISO: 100. WB: 5600 Kelvin. Diafragma/f stop: 11. Kecepatan/shutter speed di setiap foto berbeda: foto 1: 1/3 detik, foto 2: 1/30 detik, foto 3: 1/50 detik.

Foto 1: (Basic).

Di sini sumber cahaya yang digunakan apa adanya (available light). Matahari di luar cerah membias ke dalam ruang melalui pintu yang cukup lebar di sebelah kanan objek. Karena saya ingin menggunakan f stop: 11, untuk ketepatan exposure digunakan light meter dalam kamera pada fungsi aperture priority, dan kecepatan shutter secara otomatis menunjukkan angka 1/3 detik.

Disini kita bisa lihat objek utama dalam ruang pencahayaannya cukup normal, sementara background (luar ruang) over exposure karena diterangi cahaya matahari langsung yang tentunya jauh lebih kuat intensitasnya dibanding pencahayaan dibagian dalam ruang. Untuk menjadi sekedar “gambar” tentunya foto ini cukup memadai. Lighting foto jenis ini yang sekarang mudah dan banyak dihasilkan oleh kecanggihan kamera digital. Bidik, langsung “jepret”, urusan gelapterang nanti di komputer. Bagi para peminat fotografi yang gemar bermain dengan cahaya tentu tidak puas hanya begitu saja, karena objek disini masih terasa kurang berdimensi. Untuk itu kita coba lihat foto selanjutnya.

Foto 2: (Simple Set Up)

 

Pada pemotretan ke dua ada keinginan untuk memperlihatkan objek utama agar lebih berdimensi dan background luar ruangan yang cukup asri. Untuk itu harus menggunakan lampu tambahan.

Jenis lampu yang digunakan di sini flash monoblock dengan beberapa accessoriesnya, al: soft box untuk pencahayaan yang lembut, standard reflector plus honeycomb untuk pencahayaan keras dan terarah.

Untuk lebih detailnya lihat diagram . Karena pada foto ke 2 ini menggunakan lampu tambahan, maka mutlak di sini juga menggunakan light/flash meter untuk mengukur intensitas cahaya. Dengan menggunakan light/flash meter, memudahkan pekerjaan kita mengkomposisikan gelap terang setiap sumber cahaya yang digunakan.

Flash monoblock yang digunakan di sini 3 buah, yaitu :

1.         Flash dengan standard reflector plus honeycomb besar ke arah objek sehingga membentuk bayangan di atas meja dan juga memberi refleksi di sandaran kursi. Intensitas diukur dari objek ke arah flash didapat 11.5. Setengah stop lebih dibanding di kamera f stop (diafragma) 11.

2.         Flash dengan softbox 60X60 cm. Karena fungsinya untuk fill in light, intensitas cahaya cukup 8.5. Setengah stop di bawah f stop di kamera.

3.         Flash dengan softbox 60X60 cm. Intensitas 11.5. Selain menerangi meja kursi di background, juga membuat refleksi di daun pintu. Cahaya matahari yang menerangi taman di background untuk mendapatkan f stop 16, (satu stop lebih terang dari f stop di kamera), berdasarkan pengukuran dengan light meter di dapat kecepatan 1/30 detik. Kecepatan ini yang digunakan di kamera.

Pada foto ke 2 ini kita melihat adanya bayangan dan refleksi yang ditimbulkan oleh lampu/flash yang di tambahkan, dan juga keseimbangan cahaya dalam ruang dan luar ruang. Ini ternyata membuat foto yang dihasilkan lebih menarik dibanding foto ke 1.

Dengan cahaya tambahan juga bisa mendramatisir objek foto yang sebetulnya biasa-biasa saja. Ini bisa kita lihat pada foto berikutnya.

Foto: 3 (Multi Set Up/Conceptual)

 

Pada foto ke 3 di atas, dengan objek yang sama ingin dicapai suasana yang lebih hangat. Untuk itu perlu mendramatisir tata cahaya (lighting set up) dengan menambah 3 buah flash monoblock dan color filter orange pada flash no 1 dengan menambah intensitas 1/2 stop, dan juga sebagian cahaya ditutup dengan karton hitam (A) untuk mempersempit refleksi di sandaran kursi. Juga pada flash no 2 dan 3 softbox ditutup sebagian dengan filter orange. Flash no 1, 2 dan 3 posisi sama dengan pada foto ke 2.  Pada foto no 3 ini perlu kita tambahkan 3 flash lagi, yaitu :

4.         Flash dengan standard reflector plus honeycomb besar dan filter biru, untuk menimbulkan sedikit refleksi biru di cangkir dan piring. Intensitasnya cukup dengan f 4.

5.         Flash dengan standard reflector plus filter orange dengan intensitas 2.8, untuk menimbulkan refleksi pada daun pintu kanan.

6.         Flash dengan standard reflector, intensitas 16.5. untuk menerangi taman di background, karena ketika pemotretan foto ke 3 ini, matahari sudah tertutup awan tebal sehingga taman di luar menjadi gelap. Seandainya dipaksa dengan memperlambat shutter speed bisa saja tetapi tidak akan ada highlight di ujung-ujung daun yang dapat memberi aksen agar tidak datar.

Karena sudah tidak ada sumber cahaya continuous (matahari) maka kecepatan shutter di kamera sudah tidak masalah asalkan masih synchron dengan flash, disini digunakan 1/50 detik.

Pada foto ke 3 ini suasana yang kita rasakan lebih hangat, memberi kesan sore hari berbeda dengan foto ke 2 yang memberi kesan pagi hari.

Dari foto-foto di atas kita dapat melihat bahwa penataan cahaya (lighting set up) sangat memegang peran merubah suasana dan kualitas dalam foto, sehingga aktifitas memotret tidak sekedar asal jadi “gambar”.

Juga mungkin bisa menjadi jawaban dari pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya: “Apakah masih perlu penggunaan lighting foto untuk pemotretan dengan digital kamera? Apakah masih perlu menggunakan flash/light meter ketika pemotretan?” Jawaban saya:”Tetap perlu”. (Roy Genggam).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.        Proses penataan bahan – bahan dan pendukung produk yang akan di foto.

Foto by Warso Fikom UPDM (B)

 

Dalam hal ini saya berikan contoh proses pengambilan foto produk es krim. Di sini peran food stylist juga berperan selain fotografernya. Seorang food stylist di tuntuntut harus mampu membangkitkan selera makan, menata makanan agar menimbulkan selera penikmat foto ataupun pembaca setelah di publikasikan. Menata es krim misalnya, es krim ini tidak bisa menggunakan es krim sungguhan.

Apabila menggunakan es krim sungguhan akan cepat meleleh apabila terkena panas lampu kamera. Jadi saya akali dengan membuat adonan yang mirip es krim aslinya atau piranti pengganti yang mirip es krim.

Menjadikan makanan terlihat cantik dan seksi jadi tantangan tersendiri. Perlu menyiapkan semua hal sebagai pendukung dan perlu di perhitungkan dengan cermat. Agar tidak perlu mengulang dua kali propertinya haruslah banyak pilihan.

Apabila klien tidak suka dengan piranti yang saya ajukan, bisa langsung menggantinya dan memilih piranti yang sesuai dengan keinginan klien. Sehingga saya tidak perlu bolak – balik pulang mengambil piranti yang di butuhkan. Selain itu penampilan makanan yang akan di foto harus benar – benar bagus.

Menjadi food stylist menurut saya, memang perlu banyak trik. Untuk mendapatkan  efek embun air es di gelas, saya hanya perlu menggunakan pilok clin. Apabila menggunakan es asli efek yang kita inginkan kurang mengena dan es itu sendiri akan cepat larut sehingga saya harus menyediakan piranti sungguhan lebih dari satu kali produk. Dengan piranti yang mirip dengan es tersebut saya dapat ber inovasi untuk tampilan yang lebih baru.

Sebelum produksi, ada namanya pre production, yaitu mempersiapkan hal – hal yang di butuhkan. Pada tahapan ini, art director, fotografer dan food stylist mendiskusikan persiapannya. Persiapan harus 95 persen harus sudah di tangan sebelum hari pemotretan.

 

 

 

 

 

 

  1. B.           Tips dan Trik pengambilan foto agar  menarik

            Karena sekarang banyak dari kita merasa mengambil foto dengan digital kamera menjadi lebih murah, maka kebanyakan kita melupakan kualitas pemotretan yang baik. Karena merasa murah atau bahkan free, maka kita banyak sembarangan mengambil foto. Tanpa kita sadari memang inilah yang terjadi, karena gratis, maka sering kita mengambil foto tanpa diutamakan keindahan foto itu sendiri.

            Usahakan selalu mengambil foto dengan kualitas yang baik, misalnya memikirkan masalah latar belakang, komposisi object, pencahayaan atau juga sudut yang menarik. Untuk itu saya mencoba memberikan beberapa masukan bagaimana foto anda terlihat lebih menarik.

  1. Jangan pernah takut untuk menundukkan badan atau bila perlu berlutut saat mengambil foto. Jangan merasa harga diri anda rusak bilamana anda menunduk atau berlutut saat mengambil gambar. Dan juga jangan takut pakaian anda akan kotor, sebab pada akhirnya foto yang indah yang akan berbicara mengenai kualitas.
  1. Latar belakang juga sangatlah penting. Apabila anda sedang memotret objek, terlebih manusia, usahakan anda selalu memperhatikan juga bagian latar belakang dari objek tersebut. Terkadang, kita lupa memperhatikan bahwa di belakang sana ada beberapa objek yang menggangu misalnya antena, kumpulan sampah, orang yang berlalu-lalang atau juga cahaya yang sangat terang. Betapapun indahnya object anda, terkadang akan terlihat tidak menarik bilamana latar belakang tidak mendukung. Lain bila foto yang anda ambil memang bertema lebih berat ke bagian latar belakang, contohnya anda ingin menceritakan sosok bocah disekitar tumpukan sampah, ini memang antara objek dan latar belakang harus sesuai tema.
  1. Tidak ada salahnya menggunakan lampu flash disiang hari dan juga di luar gedung (outdoor) Secara otomatis kamera akan mengukur berapa kekuatan flash yang dibutuhkan. Hal ini akan membantu menghilangkan bayangan yang terlalu berbeda nantinya. Apabila foto pertama dirasakan perlu menggunakan flash, maka jangan ragu untuk menggunakannya. Ingat tidak ada yang melarang menggunakan flash walaupun disiang hari. Terkadang ini membantu untuk menambahkan cahaya di objek agar tidak menjadi gelap karena cahaya di belakang yang terlalu keras.
  1. Jangan terlalu jauh dari objek. Harus diingat pada hasil akhir bila foto itu di cetak, jangan sampai wajah object terlalu jauh dan kecil sehingga tidak dapat dilihat. Usahakan untuk maju mendekati objek yang hendak difoto. Walaupun kamera anda memiliki lensa zoom, akan lebih baik bila anda mendekatinya daripada menggunakan zoom. Kenapa demikian? Sebab dengan zoom yang jauh, sebenarnya ini akan mempengaruhi genggaman tangan kita. Sedikit saja bergerak, maka efeknya akan sangat besar sekali terhadap ketajaman foto itu sendiri.
  1. Selalu ingat bahwa foto tidak hanya horizontal, namun dengan vertical pun dapat membuat foto anda berbeda. Misalnya bila mengambil beberapa orang yang banyak, akan lebih bagus dengan horizontal, namun bila hanya 2-3 orang saja, maka ada baiknya juga diambil dengan vertical. Ini akan membuat perbedaan tampilan dan nuansa pemandangan di sekitarnya.
  1. Jangan lupa mengingat mengenai focus point, biasanya kamera otomatis mensetting focus point di tengah, bila anda lupa maka bisa saja foto yang dihasilkan kehilangan focus pada objeknya. Biasakan bila anda ingin mengkomposisikan objek di pinggir foto, ada baiknya di fokuskan dulu objeknya, lalu tekan setengah tombol shutternya lalu tahan dan komposisikan bidikan anda. Setelah dirasa sudah sesuai dengan yang diinginkan, maka tekan seluruhnya tombol shutter anda.
  1. Selalu mencoba melihat dan mencari komposisi terbaik. Tidak seluruh foto mengharuskan objek berada di tengah. Bisa saja di samping kanan atau kiri, atau mungkin atas dan bawah.
  1. Apabila anda terpaksa harus menggunakan flash, jangan lupa mempelajari berapa jarak yang dapat dicapai oleh flash anda. Usahakan bahwa objek berada dalam jarak yang dapat dicapai oleh flash anda. Bila anda menggunakan zoom, maka harus diingat jarak sebenarnya tidak sedekat apa yangdilihat di dalam kamera, bisa jadi flash tidak dapat mencapai jarak tersebut.
  1. Perhatikan juga arah cahaya yang mengenai objek. Bila anda berada di luar, usahakan cahaya matahari tidak tepat berada di atas kepala. Bila itu yang terjadi, mungkin harus menggunakan flash untuk membantu pencahayaan kepada objek. Waktu terbaik untuk pemotretan diluar adalah pagi sampai jam 6:30 sampai jam 10:00 atau bila sore hari jam 15:00 sampai sebelum matahari terbenam. Bila terlalu gelap, jangan lupa bantu dengan menggunakan flash.
  1. Usahakan untuk mengarahkan objek, juga mengambil dari beberapa sudut yang baik. Foto bukan hanya untuk merekam kejadian atau sebagai dokumentasi saja, namun usahakan anda mempunyai imajinasi untuk menjadikan foto lebih bercerita dan lebih berarti dibanding hanya menjadi sebagai dokumentasi waktu saja.

Cobalah terapkan beberapa hal diatas, ini akan menjadikan awal dari langkah menuju seorang fotografer profesional. Roy Genggam, Puji Purnama dan Haryadi MC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  III          PENUTUP

 

  1. A.           Kesimpulan

 

            Setelah melalui beberapa tahapan pengambilan gambar dan sentuhal cantik oleh seorang food stylist, seminar sehari mengupas sisi lain dari produk foto makanan agar tampak cantik dan menarik akhirnya telah sampai pada kesimpulan,  bahwa :

  1. Pengambilan sebuah gambar komersil memang harus di butuhkan skill dan insting serta harus mempunyai jiwa seni yang tinggi.
  1. Untuk sebuah produk foto komersil ternya juga ada sentuhan lain selain fotografer, yaitu para food stylist yang memang patut untuk di perhitungkan keberadaanya.
  1. Sebagai fotoografer professional bukan berarti uang semata atau di bidik lalu di jepre “gambar”, tetapi esensi dan nilai – nilainyalah yang mampu membawa si photographer menjadi punya nama.
  2. Sebagai fotographer bukan sekedar punya kamera. Namun perlu juga alat pendukung lainya seperti Lighting, Triport, Ligh/Flas Metter, Lighting Back Light, Lighting Fiil in Light, dsb.
  1. Bagi fotografer dan food stylis professional, untuk mencapai nilai tertinggi dari sebuah produk foto makanan perlu adanya kerja sama antara fotografer, food stylis dan klien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.           Saran – saran

            Untuk di bidang fotografer dan food stylist ini perlu adanya kajian dan seminar – seminar lebih lanjut untuk memperdalam ilmu baik di bidang fotografi maupun di bidang menata makanan (food stylist).

            Dan ini sebuah peluang yang sangat besar bagi jiwa – jiwa creative yang ingin mengekspresikan jiwa seninya. Seminar penutupan dilaksanakan sesuai jadwal tanggal 30 April 2011 jam 17.00 WIB di Gedung Serba Guna Galeri Nasional Indonesia, Jl. Merdeka Timur No. 14, Jakarta.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s