Lompat ke isi

JIKA BISA DI PERSULIT KENAPA DI PERMUDAH

15 Desember 2010
Pagi yang cerah, namun tak secerah hatiku yang sedang galau memikirkan kehidupan yang tak kunjung pasti. Sehingga  pikirian jelekpun sempat menghantui, maklum manusia biasa yang tipis mental dan tak berpengalaman mengenyam bangku kuliah. Itulah realitanya yang harus dihadapi sebagian orang yang belum seberuntung orang – orang yang duduk di belakang meja, dengan secarik kertas dan sebuah bolpoin sebagai cangkulnya, mereka begitu mudah menyambut rizkinya.

Memang kata orang kesabaran itu tidak kurang – kurang, bakal ada penggantinya. Kesabaran itu mungkin hanya dimiliki oleh sebagian orang yang dipermudah keberuntunganya, sehingga arti sabar tersebut tidak berarti artinya.

Sabar kadang membuat orang jenuh menunggu dan terus menunggu tanpa ada kepastian yang di peroleh. Sehingga tak sedikit orang yang mengambil jalan pintas, enatah bunuh diri, menyiksa diri sendiri, melukai orang lain bahkan sampai ada yang nekat membunuh hanya untuk melampiaskan kesabaranya yang bertahun – tahun dan telah berkarat.

Kesabaran bagi orang miskin, orang yang kurang berpendidikan mungkin sebagai cobaan hidup yang terpaksa harus di jalani, terpaksa harus sabar, terpaksa harus menerima nasib yang begitu – begitu saja. Tapi itu tidak berlaku bagi para elite yang tahunya hanya duduk di belakang meja, apa itu arti sabar yang sesungguhnya. 

Sabar hanya berlaku bagi orang – orang yang tidak mampu, tidak berpendidikan dan tidak berpengalaman.

Sebetulnya ada banyak hal yang dapat di petik dan di pelajari oleh para elite dari sabar itu, antara lain para elite tidak lagi semena – mena memperlakukan orang – orang yang posisinya sedang bersabar. Kadang para elite malah memanfaatkan celah itu untuk kepentinganya sendiri. Demi kelancaran dan kemulusan suatu masalah yang edang di hadapinya, mereka memanfaatkan orang – orang yang sedang bersabar. Sungguh kejam dunia ini, coba bayangkan betapa pilunya mendengar dan melihat orang yang sedang sabar, malah di manfaatkan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu.
Miris bagi orang – orang  yang menjadi korban bagi kepentingan segelintir elite untuk memuluskan kepentinganya.
Motto orang kaya, orang yang berpendidikan serta orang yang duduk di belakang meja (elite) adalah Jika Bisa di Persulit kenapa di Permudah”. Dan,
,
Motto orang miskin, orang yang lemah, dan orang yang kurang pendidikanya adalah “Kesabaran Merupakan Pintu Kebahagiaan Dunia Akhirat”.

by warso

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.